Emas Tembus $4.300: Dua Katalis di Balik Lonjakan Sepekan
Harga emas naik lebih dari 7% dalam sepekan lalu — kinerja mingguan terbaik sejak Januari — menembus level $4.300 per ounce setelah terperangkap dalam kisaran harga yang sama sejak pertengahan Juni.
Pemicunya ada dua, menurut analis Heraeus (perusahaan logam mulia asal Jerman yang rutin merilis laporan pasar mingguan). Pertama, harapan bahwa kesepakatan antara AS dan Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz akan segera diumumkan. Ini menekan harga minyak — Brent crude turun ke bawah $85 per barrel setelah sempat menyentuh $100 pada 23 Juli. Kedua, ketika harga minyak turun, ekspektasi inflasi ikut meredah — dan dengan itu, tekanan pada The Fed (bank sentral AS) untuk menaikkan suku bunga di rapat FOMC 19 September menjadi jauh lebih kecil.
"Penurunan harga minyak ini bertepatan dengan berkurangnya kemungkinan kenaikan suku bunga oleh Federal Reserve di rapat FOMC 19 September," kata Heraeus. "Meski masih ada ekspektasi minimal satu kali kenaikan tahun ini, jika Selat [Hormuz] segera dibuka dan harga minyak terus turun, harga konsumen yang lebih rendah bisa mengurangi alasan untuk pengetatan moneter."
Secara teknis, harga spot emas sempat menyentuh $4.362 per ounce semalam sebelum sedikit terkoreksi. Per sesi terakhir, emas diperdagangkan di $4.330,42 per ounce atau sekitar Rp 2,2 juta per gram (estimasi, kurs ≈ Rp 16.000/USD).
Bank Sentral Kompak Borong: 51 Ton di Juni, Hampir Dua Kali Rata-Rata
Sementara sentiment jangka pendek ditentukan Hormuz dan The Fed, katalis strukturalnya justru datang dari bank-bank sentral dunia yang terus memborong emas.
Heraeus mencatat bahwa pembelian emas bank sentral justru dipercepat di bulan Juni, termasuk dari pembeli-pembeli baru. Total cadangan dilaporkan naik 51 ton bersih dalam sebulan — naik dari 41 ton di Mei dan hampir dua kali lipat rata-rata 12 bulan terakhir yang hanya 27 ton.
"Poland dan China tetap menjadi pembeli terbesar, masing-masing menambah 19 ton dan 15 ton. Uzbekistan menambah 9 ton, sementara Kazakhstan dan Singapura masing-masing membeli 7 ton. Yordania dan Republik Ceko juga meningkatkan cadangan mereka," tulis Heraeus. "Russia dan Turki menjadi penjual bersih, masing-masing melepas 9 ton dan 2 ton — mencerminkan perbedaan antara bank sentral yang mengakumulasi emas untuk diversifikasi cadangan dengan yang melikuidasi kepemilikan di tengah tekanan fiskal."
Secara kumulatif, pembelian bersih bank sentral di semester pertama 2026 (H1'26) mencapai 102 ton, meski dikurangi penjualan gabungan Turki dan Russia sebesar 127 ton. Ini menegaskan bahwa permintaan dari sektor resmi (bank sentral) tetap menjadi penyangga kuat harga emas.
Implikasi bagi Investor Emas Indonesia
Dua hal yang terjadi bersamaan ini — sentimen jangka pendek yang menguat + permintaan struktural dari bank sentral yang tidak berhenti — biasanya menjadi kombinasi yang solid untuk emas.
Secara historis, ketika bank sentral memborong emas dalam jumlah besar (terutama di bulan-bulan yang harganya sedang terkoreksi), ini mengirimkan sinyal bahwa "lantai harga" sedang dibangun. Pembelian 51 ton dalam satu bulan, yang hampir dua kali lipat rata-rata, adalah angka yang tidak bisa diabaikan.
Bagi investor emas di Indonesia, momen seperti ini bisa menjadi jendela untuk mengevaluasi atau menambah posisi emas fisik — bukan karena pasar sedang euforia, melainkan justru karena fondasi permintaannya yang terus menguat.
Anekalogam hadir di Mall Artha Gading untuk membantu Anda memulai atau menambah porsi emas fisik dalam portofolio. Kunjungi juga anekalogammulia.com untuk informasi lebih lanjut.