CIO Morgan Stanley: Emas Sudah Bull Market 25 Tahun

CIO Morgan Stanley: Emas Sudah Bull Market 25 Tahun

Dalam wawancara dengan Bloomberg TV pada Jumat, Wilson ditanya soal tantangan strategi portofolio klasik pasca gejolak 2022. Menurutnya, tahun itu jadi titik balik bagi banyak pensiunan karena saham dan obligasi sama-sama turun bersamaan untuk pertama kalinya dalam hidup mereka. "Bahkan meski penurunan saham tidak separah tahun 2008 atau 2001-2002, portofolio 60/40 tetap turun setara," katanya. Ia menambahkan bahwa banyak investor akhirnya membeku karena instrumen defensif dan ofensif di portofolio mereka kompak rontok bersamaan.

Yang penting menurut Wilson, investor jangka panjang sebaiknya tidak terguncang di titik puncak maupun titik dasar pasar — mengejar saham saat naik sama berbahayanya dengan menjual saat harga jatuh. Ini yang membuat Morgan Stanley tetap menyukai strategi dollar-cost averaging dan portofolio yang terdiversifikasi. Soal instrumen defensif, Wilson bilang saham dan obligasi kini makin berkorelasi sehingga tidak lagi memberi manfaat diversifikasi seperti dulu. Di sinilah emas — dan menurutnya berpotensi juga Bitcoin — masuk sebagai aset pelindung terhadap inflasi, bukan karena imbal hasilnya, tapi karena sifat defensifnya.

Ternyata 2026 diwarnai satu rotasi komoditas besar-besaran, kata Wilson. Semua berawal dari akhir tahun lalu, saat The Fed (bank sentral AS) mulai mencetak uang lewat program manajemen cadangan (reserve management program). Langkah ini langsung mendorong saham emas dan perak melesat, lalu rotasi berlanjut ke saham rare earth dan logam, saham energi, hingga akhirnya saham semikonduktor. Menurut Wilson, kesamaan dari semua sektor itu adalah karakter komoditasnya — investor tampaknya mencari aset yang menyerupai komoditas untuk mengimbangi risiko ekuitas di portofolio mereka.

Soal target harga, tim strategi komoditas Morgan Stanley — Amy Gower dan Martijn Rats — pada 22 Juni sempat memperingatkan bahwa tanpa pemulihan berarti pada arus masuk ETF (reksa dana yang diperdagangkan di bursa), target bullish mereka sebesar USD 5.200 per ons (sekitar USD 167 per gram, dengan kurs 1 ons troy setara 31,1035 gram) untuk paruh kedua 2026 akan sulit tercapai. "Pembelian emas oleh bank sentral mungkin tetap berlanjut, tapi arus ETF lebih sensitif terhadap perubahan ekspektasi suku bunga," tulis keduanya dalam catatan riset. Morgan Stanley tetap optimistis terhadap prospek jangka panjang emas, dengan harapan meredanya tensi di Timur Tengah dan turunnya harga minyak akan menekan ekspektasi inflasi.

 

Namun nada hawkish The Fed dalam pertemuan Juni sempat menaikkan ekspektasi bahwa suku bunga bakal bertahan tinggi lebih lama, yang berarti menaikkan opportunity cost memegang aset non-yielding seperti emas. Pada 6 Mei, Gower masih mempertahankan proyeksi harga emas di kisaran USD 5.200 per ons pada akhir tahun, meski mengakui emas sempat kesulitan bergerak naik di tengah ketegangan geopolitik akibat perang di Iran yang berkepanjangan. "Sensitivitas emas terhadap kebijakan moneter kini jadi penggerak harga utama, mengalahkan status safe haven-nya," kata Gower. Saat itu, Morgan Stanley masih memperkirakan setidaknya satu pemangkasan suku bunga tahun ini, dengan proyeksi Mei menunjukkan pemangkasan pada Januari disusul pemangkasan lagi pada Maret 2027.

Dilansir Kitco News, cerita di balik reli emas ini menunjukkan bahwa pergerakan harga bukan cuma soal permintaan fisik, tapi juga hasil dari kombinasi kebijakan bank sentral, arus dana ETF, dan rotasi komoditas global. Kalau kamu penasaran mau pantau harga emas terkini atau lihat pilihan produk emas Anekalogam, mampir saja ke gerai Anekalogam di Mall Artha Gading atau kunjungi anekalogammulia.com